PATROLISERGAPNEWS.COM – BIREUEN – Ancaman nyata kini membayangi warga di sepanjang aliran sungai yang melintasi Gampong Blang Bati, Keude Alue Rheng, Pulo Lawang, Seuneubok Paya Kec.Peudada dan Pulo Lawang serta Teupok Teunong Kec.Jeumpa. Jembatan penghubung antar desa beda kecamatan yang menjadi akses vital masyarakat dilaporkan dalam kondisi kritis dan hampir roboh.
Struktur jembatan terlihat rapuh. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu hari akan ambruk dan memutus jalur alternatif warga untuk bekerja, ke sekolah, hingga mengangkut hasil pertanian. Warga menyebut, kondisi ini bukan lagi sekadar peringatan—tetapi sudah masuk kategori darurat.
Di sisi lain, sungai yang seharusnya menjadi jalur aliran air justru berubah menjadi ancaman. Pendangkalan terjadi hampir di sepanjang aliran. Dasar sungai dipenuhi sedimentasi dan ditumbuhi rumput liar. Aliran air tersendat. Setiap hujan deras turun, air dengan cepat meluap dan merendam rumah warga di bantaran.
“Air sekarang tidak lagi mengalir lancar. Sedikit hujan saja sudah meluap. Kami sangat khawatir,” ungkap seorang warga.
Tak hanya itu, abrasi sungai juga mulai menggerus sawah petani di beberapa titik di wilayah Blang Bati. Lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan masyarakat perlahan terkikis. Bahkan, gerusan air dilaporkan sudah mendekati area sekitar Masjid Baitul Ghafur, menambah kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap fasilitas umum.
Keuchik Pulo Lawang, Taufik Wahyudi, SE, menegaskan bahwa normalisasi sungai tidak bisa lagi ditunda.
“Ini sudah sangat mendesak. Sungai ini melintasi beberapa gampong dan berdampak langsung pada keseharian warga. Jika tidak segera dinormalisasi dan dibersihkan, banjir akan menjadi ancaman rutin setiap musim hujan,” tegasnya.
Ia juga meminta perhatian serius pemerintah dan instansi teknis agar segera melakukan kajian lapangan dan penanganan konkret, termasuk perbaikan jembatan yang nyaris roboh.
Senada dengan itu, Mukim Alue Rheng, Munir Yunus, menyampaikan bahwa persoalan ini menyangkut lintas wilayah dan membutuhkan langkah terpadu.
“Ini bukan hanya masalah satu desa. Sungai ini urat nadi pertanian dan pemukiman warga. Abrasi sudah mengikis sawah, pendangkalan makin parah. Jangan tunggu sampai ada korban atau kerugian besar baru bergerak,” ujarnya dengan nada tegas.
Masyarakat kini menunggu bukti nyata, bukan sekadar janji. Normalisasi sungai sepanjang lima gampong dan perbaikan jembatan penghubung menjadi tuntutan mendesak demi keselamatan, keberlangsungan ekonomi, dan masa depan warga di wilayah tersebut.
Zulfikar : patrolisergapnews.com







