PATROLISERGAPNEWS.COM – Memang benar jiwa muda bila tertantang semakin membara namun relasi juga perlu: by Arif Andepa Edisi pertama Saya kira hampir semua kita sependapat bila ada peristiwa sekarang hampir sama dengan kejadian yang pernah kita alami dimasa lalu tanpa sengaja ingatan kita terefleksi kembali.
Tulisan ini terlahir dari peristiwa terjadi sekitar delapan belas tahun yang lalu ketika hutan di Pegunungan Peudada mulai pembalakan secara besar-besaran.
Alasan pembersihan lahan ribuan hektar, yang menjadi kecurigaan kita kenapa lahan tersebut dibersihkan dalam kawasan padat pepohonan baik ukuran sedang maupun besar yang sudah tumbuh dan lestari ratusan tahun lalu sekaligus bisa terancam ekosistem.
Imbasnya bila hujan deras gunung gundul ketahanan tanah labil dapat menyebabkan banjir dahsyat memporak-porandakan harta benda serta korban jiwa tidak terelakkan terutama.
Masyarakat yang mendiami sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peudada dan pembalakan besar-besaran tersebut.
Segelintir orang Peudada merasakan uang receh sedangkan yang meraup keuntungan lebih besar tidak tau dimana asal-usulnya.
Sampai sekarang peristiwa ngeri-ngeri sedap itu masih membekas diingatan, gelora muda saya saat itu disertai puji-sanjung masyarakat.
Waduh nama sayapun melambung tinggi bahkan menembus relung hati namun seiring popularitas tidak lama kemudian ketenangan dan kenyamanan kehidupan saya mulai terusik dengan kata-kata yang masuk handphone bernada susah tidur bila dipikirkan. Dan saya dihadapkan dengan dua pilihan DIAM atau LANJUT, bila memilih:
Opsi pertama mungkin saya mendapat imbalan yang menggiurkan dan hidup pun tanpa tekanan, memilih:
Opsi kedua mungkin juga jiwa saya terancam, konon kondisi keamanan waktu itu belum sepenuhnya kondusif. Saya dihantui rasa takut meninggal dibunuh, tetapi terpikir juga orang tua saya tanpa dibunuh juga meninggal, penggalan kalimat itu yang membuat saya kembali percaya diri.
Tetapi bila kami opsi keragu-raguan atau pembiaran… Bersambung
Herman: patrolisergapnews.com








